Home Pendidikan Menambah Tabungan Jiwa dengan Membaca Buku

Menambah Tabungan Jiwa dengan Membaca Buku

1,456
0
SHARE
Menambah Tabungan Jiwa dengan Membaca Buku

Keterangan Gambar : Eva Khoirunnisa, Tim Litbang Klinik Pendidikan MIPA

Oleh: Eva Khoirunnisa, Tim Litbang Klinik Pendidikan MIPA 

Setiap manusia memiliki jiwa dan raga, keduanya sama-sama memiliki kebutuhan. Kebutuhan akan sandang, papan, dan pangan merupakan kebutuhan raga. Sedangkan kebutuhan akan hati yang tenang, bahagia, dan selalu merasa cukup adalah kebutuhan jiwa. Kebutuhan jiwa dan raga harus seimbang dan terpenuhi, sehingga perlu memiliki tabungan. Tabungan tidak hanya untuk raga, tetapi juga perlu memiliki tabungan jiwa. Tabungan raga dilakukan dengan bekerja, menyimpan sebagian hasil kerja dan berhemat. Sedangkan salah satu cara untuk menambah tabungan jiwa adalah dengan membaca buku.

 

Kapan terakhir kali Anda membaca buku?

Barusan saja? kemarin? Minggu lalu? Bulan lalu? Tahun lalu? Atau anda sudah tak ingat lagi? Membaca seharusnya sudah menjadi kebutuhan kita. Menjadi bagian dari keseharian kita, terutama membaca buku. Dengan membaca membuka jendela dunia. Manfaat membaca tak diragukan lagi, sudah banyak dirilis di media-media.

 

Apakah membaca buku perlu dibatasi pada buku tema tertentu saja?

Tentu tidak. Berbagai genre buku layak kit abaca, untuk diambil hikmah dan manfaatnya. Kebaikan dalam buku yang dibaca diimplementasikan dalam kehidupan

 

Apakah membaca selain buku tentang agama akan mendapatkan pahala?

Pahala itu rahasia Allah, kita hanya bisa meyakini bahwa perbuatan baik akan mendapatkan pahala. Itupun belum tentu perbuatan baik kita merupakan perbuatan baik menurut Allah, karena setiap perbuatan tergantung niatnya. Walaupun kita baca majalah, baca koran, baca novel, baca komik, dan lainnya bisa saja kegiatan membaca kita akan mendapatkan pahala, jika meniatkan dengan baik. Bukankah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang berbunyi “Iqra”, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (Alalaq:1). Allah SWT tidak membatasi kita dalam memilih buku untuk dibaca, artinya kita boleh membaca buku apa saja asalkan memberi manfaat untuk diri kita.

 

Bagaimana dengan membaca novel?

Menurut penelitian di University of Toronto dikatakan bahwa rajin membaca buku fiksi akan menambah nilai empati yang ada di dalam diri seseorang. Membaca buku fiksi juga dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas seseorang. Ketika membaca buku, otak kita akan membayangkan peristiwa-peristiwa dalam buku tersebut. Kita akan masuk dalam dunia itu. Kita akan ikut merasakan bahagia maupun sedih, dan kita merasakan menjadi tokoh dalam novel tersebut. Di situlah nilai empati kita bertambah.

Selain dapat menambah nilai empati seseorang, membaca buku fiksi juga dapat mengurangi stres. Sebuah studi yang dilakukan oleh beberapa ahli di Sussex University, Amerika Serikat, membuktikan bahwa membaca buku sebelum tidur dapat mengurangi kadar stres hingga 68%. Dengan membaca, seseorang dapat mengurangi tekanan mental yang dideritanya.

 

Dimana tempat yang nyaman untuk membaca?

Semua tempat akan terasa nyaman untuk membaca buku asalkan kita bisa berkonsentrasi. Meskipun terkadang kita merasa asing atau malu membaca buku di tempat ramai. Ketahuilah, orang yang sering membaca akan mudah berkonsentrasi. Membaca buku akan merangsang sel-sel otak sehingga sel-sel otak menjadi lebih aktif dan otak menjadi lebih mudah berkonsentrasi. Dengan membaca, kita juga dapat menciptakan berbagai ide baru. Maka, perbanyaklah membaca.

 

Mengapa tabungan jiwa kita bertambah melalui membaca?

Membaca buku merupakan suatu amalan yang baik karena dapat membuka pikiran kita dan menambah ilmu pengetahuan yang kita miliki. Kenapa kita harus mengambil ilmu dari apa yang kita baca? Karena membaca tanpa memikirkan ilmu di dalamnya ibarat makan tanpa mencerna (Edmun Burke). Ketika apa yang kita baca, kita pahami, kita ambil ilmunya, lalu kita sampaikan ke orang lain, dan orang lain menggunakannya untuk kepentingan yang baik, bahkan menyampaikannya lagi ke orang lain, maka ilmu itu terus-menerus mengalir. Pahala akan terus mengalir walaupun kita telah wafat. Sebagaimana Rasullullah bersabda: “Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan dia.” (HR. Muslim).